Jumat, 05 Oktober 2012

Jenis Obat Stimulan untuk Anak dengan ADHD

Attention Deficit Disorder (ADD) merupakan suatu gangguan perilaku dan perkembangan yang sebagian besar terjadi pada anak-anak.
Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% kasus ADD disebabkan oleh faktor keturunan dan sekitar 20% disebabkan karena faktor lingkungan seperti paparan alkohol dan merokok selama kehamilan dan juga paparan timbal saat anak masih bayi.
Penyebab lain ADD termasuk cedera otak dan aditif makanan.
Gejala ADD sebagian besar terlihat pada anak-anak sebelum usia 7 tahun dengan gejala susah berkonsentrasi (kurangnya perhatian dan kesulitan mendengarkan) dan impulsif (disorganisasi dan bertindak sebelum berpikir).
ADD yang disertai dengan gejala hiperaktif disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
Kecemasan, stres dan depresi dapat menyertai ADHD. Sebelumnya diasumsikan bahwa gejala ADHD menghilang dengan sendirinya seiring anak tumbuh dewasa.
Namun, asumsi ini tidak sepenuhnya benar karena gejala yang berhubungan dengan hiperaktif mungkin tetap ada hingga masa remaja.
ADHD hanya dapat didiagnosis dengan mempelajari perilaku anak oleh psikiater, psikolog, atau dokter anak.
Pengobatan ADHD
ADHD biasanya diatasi dengan obat-obatan, terapi perilaku, dan kombinasi keduanya.
Menurut sebuah penelitian, kombinasi antara obat-obatan dan terapi terbukti efektif dibanding hanya menggunakan salah satunya saja.
Obat paling efektif yang digunakan untuk pengobatan ADHD adalah jenis stimulan.
Stimulan bertindak mempengaruhi dopamin yang merupakan neurotransmitter otak yang bertanggung jawab agar sistem saraf pusat berfungsi normal.
Ada berbagai jenis stimulan yang bisa diresepkan sesuai dengan kelompok usia anak.
Berikut ini adalah daftar nama generik obat stimulan yang umumnya diberikan:
  • Methylphenidate – untuk usia 6 tahun ke atas
  • Amphetamine – untuk usia 3 tahun ke atas
  • Dextroamphetamine – untuk usia 3 tahun keatas
  • Dexmethylphenidate – untuk usia 6 tahun keatas
Efek samping yang mungkin timbul dari pemberian obat ini diantaranya sakit kepala, kehilangan nafsu makan, hipertensi, perubahan tingkat gula darah, kesulitan tidur, depresi, dll.
Segera hubungi dokter jika gejala efek samping tersebut teramati pada anak untuk memutuskan perubahan atau bahkan penghentian dosis.
Selain penggunaan obat, dukungan dari anggota keluarga dan guru merupakan faktor penting dalam rangka pengobatan ADHD.
Perlu diperhatikan pula bahwa setiap anak mungkin menunjukkan gejala kurangnya perhatian, impulsif atau hiperaktif sampai batas tertentu.
Tidak setiap anak dengan perilaku tersebut bisa dikategorikan sebagai ADHD.
Berkonsultasilah dengan spesialis kesehatan yang kompeten untuk diagnosa yang lebih tepat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar